Bersama KELUARGA MAHASISWA KLATEN UNIVERSITAS DIPONEGORO

dokumentasi pribadi dalam berbagai kesempatan kegiatan.

KMK UNDIP 2009

outbound keluarga mahasiswa klaten undip 2010, kmk angkatan 2009.

@ Gedung FISIP Undip

bersama rekan seperjuangan di S1 ilmu pemerintahan reg 1 angkatan 2009 fisip undip.fotoku malah ga kliatan ig

narsis mode on

berada di depan pusat pemerintahan kabupaten Klaten, smoga kelak aku bisa berkontribusi nyata untuk kota kelahiranku tercinta

DA 14

bersam temen seperjuangan di Dewan Ambalan SMANSA Klaten, miss u all

Jumat, 01 Juli 2011

siswa KLATEN yang lolos SNMPTN UTUL UNDIP


dari data yang kmk undip peroleh datanya sebagai berikut
. nama/asal sma/keterima di jurusan
1. Erika Prilly Diah Setiorini/ Kr anom/ Keperawatan
2.sulistyani/smansa/tekling
3.sholikhah w.s/smansa/gizi
4.wuri indri a./smansa/kperwtn
5.adam wicaksno/smansakar/tek.elektro
6.fitria ardiani/jogza/fkm
7.Febriana Habibah / Hukum
8.intan daryanti/jogza/fkm
9.raditya wahyu utama/smada/t.geodesi
10.hima/smada/sastra inggris
11. annisa/smanca/akuntansi

bagi temen dari klaten yang di terima di undip namun belum tertulis di atas, harap hubungi blog ini dengan meninggalkan coment yaa..
trimakasiii

Rabu, 08 Juni 2011

Program Ketahan Pangan Nasional




Tugas Mata Kuliah

MANAJEMEN STRATEGIS

Program Ketahan Pangan Nasional













Disusun Oleh:
GALIH MARENDRA
D2B009040


JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara agrasis yang memiliki sumberdaya alam yang beraneka ragam. Kekayaan yang ada di Indonesia sudah semestinya digunakan untuk kesejahteraan masyarkatnya. Sebagai Negara agraris, Indonesia kaya akan jenis bahan pangan yang tersebar di berbagai wilayah. Selain beras sebagai bahan pangan pokok utama, Indonesia kaya akan jagung, sagu, umbi-umbian, sebagai sumber karbohidrat. Apa yang ada di alam Indonesia sudah cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pengelolaan yang benar adalah kunci utamanya.
Jumlah Penduduk Indonesia yang cenderung selalu meningkat setiap tahunnya berakibat dengan ketersediaan pangan yang juga akan meningkat. Hingga saat ini saja, Indonesia masih harus mengimport beberapa komoditas utama pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Dengan besarnya jumlah penduduk tanpa di imbangai dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadikan negara tersebut menjadi objek pasar produk pangan import. Ketergantungan ini tentunya bukan hanya merugikan dari segi ekonomi saja, melainkan juga menimbulkan kerawana pada bidang sosial dan politik.
Dukungan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, belum mampu untuk mewujudkan tercapainya ketahanan pangan nasional, terbukti dengan masih adanya import beberapa bahan pangan dari negara lain. Apa yang salah dari Indonesia sehingga masih belum bisa mencapai swasembada pangan?. Kalau melihat sejarahnya, Indonesai pernah mencapai swasembada pada era 1980an, akan tetapi hal itu tidak bisa dipertahnkan hingga saat ini.
Kemajuan pada bidang pembangunan memberi dampak yang kurang baik dalam bidang pertanian, pembangunan kawasan industri atau alih fungsi lahan di beberapa daerah menyebabkan berkurangnya lahan pertanian sebagi penghasil produk pangan. Rendahnya tingkat pendapatan yang diperoleh oleh petani juga menyebabkan penurunan minat masyarakat Indonesia untuk bekerja di sektor pertanian. Kemajuan dalam bidang pertanian belum sepenuhnya membuahkan hasil, tingkat penguasaan teknologi para petani yang masih rendah membuat daya saiang produk pertanian kita semakin tidak kompetitif.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, dalam penyusunan makalah ini akan dibahas beberapa point penting, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan Ketahanan Pangan ?
2. Bagaimana strategi yang dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan?
3. Apa hambatan yang di hadapi?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Sekilas mengenai Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau (UU No. 7 Tahun 1996). Ketahanan pangan meliputi ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai bagi seluruh penduduk Indonesia.
Ketahanan pangan bukan sekedar tersedianya pangan saja, melainkan kemampuan untuk mengakses pangan dan tidak tergantung dari pihak manapun. Melihat hal ini, sesungguhnya para petani mempunyai kedudukan strategis dalam ketahan pangan. Petani merupakan produsen pangan sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih berada di garis kemiskinan.
Apabila kita lihat, tujuan program ketahanan pangan meliputi :
1. Meningkatnya ketersediaan pangan.
Jumlah penduduk yang terus meningkat di Indonesia harus di Imbangi dengan ketersediaan pangan. Kasus gizi buruk, busung lapar bisa jadi karena masyarakat tidak mampu membeli kebutuhan pangan mereka.
2. Mengembangkan diversifikasi pangan.
Selama ini makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia adalah beras, melihat kondisi dilapangan, keberadaan beras juga masih belum mencukupi dengan kebutuhan yang di butuhkan masyarakat. Pemanfaatan potensi makanan pokok berbasis kedaerahan akan membantu peningkatan program ketahan pangan nasional. Diversifikasi pangan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan pokok alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
3. Mengembangkan kelembagaan pangan.
Keberadaan peran dan fungsi lembaga pangan seperti kelompok tani perlu di kembangkan untuk mendukung pembangunan kemandirian pangan. Pembinaan kelompok tani bisa dilakukan untuk turut membantu pelaksanaan program ketahanan pangan dari pemerintah. Lembaga pangan bisa menangani hasil pasca panen, dan mengolah produk pangan menjadi produk yang bernilai lebih tinggi.
4. Mengembangkan usaha pegelolaan pangan.
Usaha pengelolahan yang selama ini rata-rata berbasis rumah tangga, bisa di tingkatkan lagi untuk dikembangkan menjadi usaha pengelolaan pangan yang lebih besar.
Sebagai negara agraris, Indonesia mempunyai banyak peluang untuk mencapai ketahan pangan nasional. Keragaman sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar dapat dimanfaatkan melalui pemanfaatan dan pengembangan pangan. Perkembangan teknologi yang pesat dalam berbagai aspek ; produksi, pasca panen dan pengolahan produk pertanian, distribusi, pemasaran untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan, produktivitas dan efisiensi, meningkatkan keuntungan agribisnis pangan, dan ketahanan pangan. Serta adanya perubahan manajemen pembangunan dan pemerintah kearah desentralisasi dan partisipasi masyarakat yang memudahkan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan dengan memperhatikan sumber daya, kelembagaan dan budaya local (berbasis kedaerahan).

B. Strategi mencapai Ketahanan Pangan
Adanya kebijakan penyeragaman pangan pokok ke beras pada era orde baru, telah membuat konsumsi pada masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Dengan ketergantungan terhadap suatu jenis bahan makanan bisa menyebabkan terjadinya kerawanan pangan. Kondisi ini bisa menjadi sebuah jebakan pangan dan mengancam ketahan pangan Indonesia. Upaya untuk mencapai ketahan pangan nasional juga telah di tuangkan dalam rencana strategis kementerian pertanian 2010-2014. Dalam renstra kementerian pertanian tersebut telah dirumuskan upaya upaya strategis untuk mewujudkan pencapaian swasembada dan swawembada berkelanjutan. Di dalam renstra kementerian pertanian 2010-2014 disebutkan bahwa substansi inti program aksi ketahanan pangan adalah sebagai berikut:
a) Lahan, Pengembangan Kawasan dan Tata Ruang Pertanian: Penataan regulasi untuk menjamin kepastian hukum atas lahan pertanian, pengembangan areal pertanian baru seluas 2 juta hektar, penertiban serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar.
b) Infrastruktur: Pembangunan dan pemeliharaan sarana transportasi dan angkutan, pengairan, jaringan listrik, serta teknologi komunikasi dan sistem informasi nasional yang melayani daerah-daerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya.
c) Penelitian dan Pengembangan: Peningkatan upaya penelitian dan pengembangan bidang pertanian yang mampu menciptakan benih unggul dan hasil peneilitian lainnya menuju kualitas dan produktivitas hasil pertanian nasional yang tinggi.
d) Investasi, Pembiayaan, dan Subsidi: Dorongan untuk investasi pangan, pertanian, dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah, penyediaan pembiayaan yang terjangkau, serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji, pupuk, teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu, tepat jumlah, dan terjangkau.
e) Pangan dan Gizi: Peningkatan kualitas gizi dan keanekaragaman pangan melalui peningkatan pola pangan harapan.
f) Adaptasi Perubahan Iklim: Pengambilan langkah-langkah kongkrit terkait adaptasi dan antisipasi sistem pangan dan pertanian terhadap perubahan iklim.
Perluasan lahan pertanian diluar jawa harus segera dilakukan lagi, karena lahan pertanian yang ada sekarang ini justru semakin berkurang karena untuk keperluan bisnis. Pembukaan lahan baru bisa mendorong penambahan hasil pertanian.
Strategi yang bisa dikembangkan dalam upaya kemandirian pangan antara lain sebagai berikut :
1. Kebijakan yang berorientasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan (petani) sekaligus meningkatkan produksi pangan nasional. Misalnya kebijakan perluasan lahan pertanian dengan memberdayakan masyarakat sekitar, sehingga masyarakat (petani) memiliki luas lahan yang memberikan keuntungan untuk dikelola sekaligus meningkatkan produktivitas usaha taninya. Kebijakan ini bisa diterapkan di luar pulau jawa, mengingat masih luasnya lahan di luar jawa.
2. Kebijakan diversifikasi pangan. Ini merupakan kebijakan yang bertujuan unntuk membiasakan rakyat mengkonsumsi makanan sehari-hari dari berbagai jenis pangan. Dengan terwujudnya kebiasaan makan yang baru tersebut, ketergantungan terhadap salah satu komoditas pangan dapat berkurang. Kenijakan ini bisa berupa pemberdayaan masyarakat lokal.
3. Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan.
4. Revitalisasi industri produksi pertanian, misalnya adanya bibit unggul, ketersediaan pupuk dan saran pertanian lainnya.
5. Penanganan pasca panen serta pengolahan pangan.
6. Memperdayakan lembaga pangan, seperti Koperasi, UKM , Kelompok Tani maupun lumbung desa.
7. Kebijakan yang kondusif dari pemerintah untuk terciptanya kemandirian pangan, seperti perlindungan lahan pertanian, kredit pembiayaan pertanian dll.
Sinergitas anatara lembaga pemerintahan juga diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional, pernah diberitakan bahwa guna mendukung program ketahanan pangan, BUMN mengalokasikan dananya untuk mendukung ketananan pangan melalui progra Gerakan Produksi Pangan dengan sistem Korporasi (GPPK). BUMN bekerja sama guna mendukung peningkatan produksi beberapa komoditas pangan.
C. Tantangan Ketahanan Pangan Nasional.
Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam di Indonesia hingga saat ini belum bisa digunakan untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. Adanya kasus busung lapar, kurang gizi yang terjadi beberapa waktu lalu menandakan bahwa masyarakat di Indonesia belum merdeka mengenai hal akan pangan.
Beberapa komoditas pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat masih harus didatangkan dari negara lain di tengah kekayaan alam indonesia yang melimpah. Harga komoditas pangan yang fluktuatif juga membuat masyarakat geram, kenaikan harga pangan seringkali membuat masyarakat harus berfikir ulang supaya kebutuhannya bisa tercukupi ditengan kondisi perekonomian yang sulit.
Upaya pembangunan ketahanan pangan nasional juga mengalami tantangan yang berat. Banyak faktor yang mempengaruhinya, alih fungsi lahan pertanian menjadi masalah yang tidak akan ada habisnya, banyak di daerah terjadi alih fungsi lahan pertanian produktif untuk digunakan sebagai kawasan perumahan ataupun kawasan bisnis lainnya. Tentunya kondisi ini akan mempengaruhi hasil dari produk pertanian.
Kondisi infrastruktur yang masih belum memadai seringkali menghambat dalam pendistribusian pangan dariu daerah satu kedaerah lainnya. Kondisi ini bisa menyebabkan mahalnya harga pangan di tangan konsumen. Penerapan teknologi bidang pertanian yang belum maksimal membuat hasil produk pangan belum begitu banyak hasilnya.
Kondisi cuaca yang akhir-akhir ini yang kurang bersahabat dengan petani membuat petani kebingungan mau menanam komoditas pangan apa yang cocok dengan musim. Ditambah serangan hama yang sering kali menyerang tanaman menjelang panen ataupun pasca menanam membuat petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan tanaman pangan yang ditanamnya. Seranagn hama sering kali membuat petani gagal panen, sehingga gagal menghasilkan produk pangan.
Kondisi pertanian yang masih tradisional juga menjadi perhatian, petani tradisional biasanya menanam komoditas untuk keperluan mereka saja, peluang untuk memberikan pemahaman baru bagi para petani tradisional turut akan meningkatakan hasil produk pangan dari mereka serta secara tidak langsung juga akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Komoditas pangan import yang dipengaruhi harga minyak bumi membuat Indonesia harus berhati-hati, karena apabila harga minyak mengalami kenaikan sudah bisa dipastikan bahwa harga komoditas pangan import tersebut juga akan mengalamai kenaikan.


BAB III
PENUTUP
Kekayaan alam Indonesia akan sumber bahan pangan alami harus dieksplorasi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Ketahanan pangan bukan sekedar tersedianya pangan saja, melainkan kemampuan untuk mengakses pangan dan tidak tergantung dari pihak manapun. Banyak sekali upaya yang bsa dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional salah satunya melalui diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan pokok alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
Upaya mencapai ketahanan pangan harus didukung oleh semua elemen masyarakat. Pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian telah menyusun rencana strategisnya guna mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan dan peningkatan diversifikasi pangan untuk mencapai kondisi pertanian yang unggul dan berdaya saing.
Ditengah berbagai peluang untuk mencapai ketahanan pangan nasional, Indonesia juga dihantui terjadinya rawan ketahanan pangan, ketergantungan bahan pangan dari negara lain, misalnya kedelai dan gandum belum bisa di atasi. Kemandirian pangan Indonesia harus di dorong terus, ketergantungan dari negara lain hanya akan menjadikan Indonesia sebagai negara konsumen saja. Pembangunan di sektor pertanian harus menyentuk semua elemen, dari hulu sampai hilir.
Kearifan lokal menjadi tameng yang semakin penting untuk kedepannya, sejalan dengan peningkatan peranan dunia usaha di bidang pertanian tanaman pangan. Peran dunia usaha memproduksi komoditas pangan memang sulit untuk dihindari, sebaliknya peranan tersebut perlu terus didorong. Sementara peran pemerintah lebih terfokus pada regulasi dan penyediaan infrastruktur pertanian. Meski demikian, peranan dunia usaha tetap harus sejalan dengan kearifan lokal yang telah tumbuh dan berkembang pada kehidupan masyarakat selama ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.jembatanselatsunda.com/agp/index.php?option=com_content&view=article&id=1006%3Akearifan-lokal-meningkatkan-ketahanan pangan&catid=52%3Aumum&Itemid=57&lang=in
http://www.perumperhutani.com/index.php/news/detail/dukung_ketahanan_pangan_bumn_alokasikan_rp_41_t/
http://www.biaknumfor.com/index.php?option=com_content&view=article&id=162:pangan-lokal-diperkuat-untuk-dukung-program-ketahanan-pangan&catid=23:februari
http://bkppkukar.com/berita.php?id=11
Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014

Sabtu, 28 Mei 2011

“NELAYAN, BERTARUNGLAH,,,!”


BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai negara kepulauan, Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau yang tersebar dari sabang sampai marauke. Begitu juga dengan mata pencaharian penduduknya, terutama penduduk pesisir pantai yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Letak Indonesia yang sangat strategis juga menjadi penyebab Indonesia memeliki kekayaan alam yang sangat melimpah terutama sumber daya lautnya. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa dari pemberdayaan hasil kelautan sangat menopang perekonomian Indonesia saat ini. Tetapi dengan kekayaan alam yang melimpah seperti ini tidak diimbangi oleh sumber daya masyarakat dan pemerintahannya. Selain itu negara kita juga tertinggal dalam bidang teknologi dengan negara-negara tetangga sehingga ibarat kata nelayan-nelayan kita sering kalah skak dalam hal eksploitasi sumber daya laut. Ketidaksejahteraan nelayan-nelayan kita diperparah oleh kebijakan pemerintah yang kurang kuat dan mendukung para nelayan. Pemerintah tidak membatasi gerak-gerik nelayan besar yang menggunakan kapal dengan mesin dan alat pancing tertentu yang menyebabkan nelayan-nelayan kecil kurang mendapat hasil. Biasanya kapal-kapal tersebut merupakan milik perusahaan besar yang tujuannya untuk diekspor atau bahkan mungkin perusahaan ilegal. Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang tepat bagi nelayan sehingga para nelayan tidak mendapat kesulitan dalam melakukan aktivitasnya. Pemerintah juga harus bersikap tegas dalam menangani masalah-masalah kapal-kapal asing yang masuk kedaerah perairan Indonesia dan memberi sanksi yang tegas bagi kapal-kapal tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Permasalah Besar Para Nelayan Indonesia
Sebagian besar permasalahan yang dihadapi oleh nelayan di Indonesia adalah cuaca ekstrem yang melanda perairan Indonesia sekitar awal tahun 2011 ini. Pendapatan mereka menurun ketika pemerintah mengklaim bahwa cuaca di lautan Indonesia sedang tidak bersahabat. Langkah awal pemerintah untuk menangugulangi hal tersebut adalah mensubsidi beras selama 14 hari kepada para nelayan. Hal ini dianggap sebagai penanggulangan jangka pendek. mereka merasa pemerintah tidak adil terhadap apa yang pemerintah berikan. ketidakadilan tersebut dapat terlihat pada saat ini, yaitu ketika masyarakat kita sedang mengalami kesulitan (khususnya para nelayan) justru pemerintah pusat sedang ribut akan pembangunan gedung baru DPR. Sebelumnya, sekitar tahun 2010 pemerintah telah melakukan restrukturisasi pengadaan kapal motor. Namun sebagian nelayan menganggap bahwa pengadaan kapal motor tersebut salah sasaran dalam pelaksanaannya.
Permasalahan yang sedang dihadapi nelayan harus segera diatasi. Misalnya permasalahan tentang peralatan berlayar dalam mencari ikan yang masih tradisional. Begitu pula kurangnya sarana dan prasarana dalam mengembangkan hasil tangkapan ikan dan juga mahalnya harga bahan bakar kapal para nelayan berupa solar. Permasalahan lainnya yang begitu penting adalah pemerintah Indonesia belum mempunyai sistem informasi yang akurat dan canggih tentang perubahan iklim dan cuaca di Indonesia. Jika pemerintah memiliki alat canggih pendeteksi iklim dan cuaca serta pemerintah memberikan sistem GPS kepada setiap kapal yang dimiliki para nelayan, mungkin para nelayan itu tidak akan nekat untuk mencari tangkapan ikan di cuaca dan iklim yang ekstrem itu. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi seperti itu membuat nelayan enggan mendengarkan instruksi dari pemerintah. Seharusnya pemerintah memberi perhatian yang lebih kepada nelayan dengan memperhatikan nasib para nelayan seperti memberikan subsidi berupa alat-alat melaut yang dibutuhkan. Biasanya nelayan mengalami kesulitan dalam memasarkan ikan dengan harga yang layak. Sebab sebagian pembeli seenaknya menentukan harga padahal untuk mendapatkan ikan tersebut butuh perjuangan yang tidak mudah. Para nelayan berharap agar pemerintah mau bekerjasama dan membantu nelayan, misalnya dalam hal pemasaran atau subsidi alat nelayan. Dengan demikian hidup nelayan lebih terbantu dan terjamin.


Kebijakan Strategis Pemerintah Indonesia
Sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap keberlangsungan masyarakat khususnya di daerah pesisir, pemerintah seharusnya memberlakukan sistem kepekaan terhadap sistem dan teknologi yang digunakan para nelayan untuk mencari tangkapan ikannya. Hal tersebut berkaitan langsung dengan kebijakan strategis pemerintah. Antisipasi terhadap permasalahan yang dihadapi para nelayan adalah bentuk kesiapan jangka panjang nelayan untuk mengurangi kegagalan panen tangkapan ikan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tindakan strategis yang seharusnya pemerintah lakukan untuk menangani permasalahan yang timbul.
1. Dalam penanganan permasalahan diatas, pemerintah seharusnya membuat sebuah program, dimana program tersebut mencakup beberapa aspek. Sebagai contoh memberikan pelatihan melalui BLK dan juga pemberian dana talangan (pinjaman) melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB).
2. Pemerintah membuat standar kelayakan pemakaian kapal, seperti kapal-kapal yang dinilai tua dan tidak layak pakai lagi tidak boleh berlayar. Selaian itu, kapal-kapal nelayan yang sekarang ini rata-rata masih menggunakan kapal kecil, alangkah lebih baik untuk diganti dengan kapal yang lebih besar dan lebih modern sehingga bisa mencari ikan yang lebih banyak.
3. Pemerintah harus bisa menyediakan alat-alat teknologi yang canggih dan modern, hal ini berguna untuk mengantisipasi perubahan iklim dan cuaca yang terus menerus berubah secara ekstrem.
4. Pemberian sistem GPS terhadap kapal-kapal nelayan untuk mempermudah terhadap penangkapan ikan dan tanpa harus bekerja keras.
5. Pemberdayaan istri nelayan untuk turut mengembangkan perekonomian keluarga. Istri nelayan bisa mengembangkan usaha pengolahan hasil tangkapan hasil laut untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi tinggi serta bisa melalui kelompok usaha atau koperasi nelayan, sehingga perekonomian keluarga nelayan tidak hanya bertumpu pada suami saja. Koperasi nelayan juga bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan produk dari nelayan.
Beberapa kebijakan yang disebutkan diatas merupakan kebijakan yang bersifat jangka panjang. Keberadaan pemerintah di tengah-tengah masyarakat sangat diperlukan dan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat (khususnya nelayan) untuk mendukung kebijakan yang telah dibuat pemerintah. Keberhasilan kebijakan pemerintah dapat diukur ketika sebuah kebijakan tetsebut diinterpretasikan serta dengan transparansi yang jelas dan akuntabilitas kebijakan. Proses evaluatif kebijakan memerlukan tindakan, kerja sama dan proses aktualitas. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat tersebut memberikan peluang kepada para nelayan agar keberhasilan panen ikan melimpah dan kelayakan hidup nelayan terpenuhi dan terjamin.
Keterlibatan dari dinas perikanan dan kelautan serta para akademisi juga diperlukan dalam upaya menanggulangi permasalahan yang di hadapi oleh nelayan. Pemerintah bisa lebih mendayagunakan para penyuluh-penyuluh perikanannya untuk lebih berkreasi mengatasi permasalahan nelayan. Peran serta masyarakat umum, misalnya LSM juga bisa membantu dalam upaya mengatasi permasalahan.
Lembaga legislatif harus membuat tata peraturan dimana subtansinya adalah untuk melindungi para nelayan di Indonesia misalnya, adanya aturan mengenai kapal-kapal asing yang secara illegal masuk kedalam wilayah perairan Indonesia.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, begitu banyak hal yang mempengaruhi tingkat produkrivitas nelayan dalam usaha mencapai kesejahteraan hidupnya dalam hal ini dalam mencari ikan. Masalah-masalah yang ada diantaranya adalah cuaca,perlengkapan berlayar,kebijakan Pemerintah yang kurang pro nelayan.
Seharusnya Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan lebih tanggap terhadap persoalan yang dihadapi oleh para nelayan. Pemerintah hendaknya memberikan fasilitas-fasilitas ataupun memberi kemudahan bagi para nelayan untuk mengakses keperluan-keperluan yang dibutuhi oleh para nelayan. GPS misalnya, GPS ini dapat digunakan oleh para nelayan untuk memberi kemudahan dalam hal pencarian ikan. Juga bisa melalui bantuan untuk perbaikan kapal-kapal nelayan yang lebih modern.

JURGEN HABERMAS


JURGEN HABERMAS
A. Biografi Jurgen Habermas
Habermas adalah seorang pemikir sosial yang sangat penting di dunia dewasa ini. Lahir di Dusseldorf, Jerman 18 Juni1929 dari keluarga kelas menengah yang agak tradisional. Ayahnya pernah menjabat direktur Kamar Dagang. Ketika berusia belasan tahun selama PD II Habermas sangat dipengaruhi oleh perang itu. Berakhirnya perang menimbulkan harapan dan peluang baru pemuda Jerman, termasuk Habermas. Hancurnya Nazisme menimbulkan optimisme mengenai masa depan Jerman, namun Habermas kecewa karena hampir tak ada kemajuan yang berarti di tahun-tahun permulaan sesudah perang. Dengan berakhirnya kekuasaan Nazi, semua jenis peluang intelektual muncul, dan buku-buku yang semula dilarang dibaca kini boleh dibaca dan tersedia buat Habermas. Termasuk literatur Barat dan Jerman maupun risalah yang ditulis oleh Marx dan Engels. Antara tahun 1949 dan 1954 Habermas mempelajari berbagai topik (antara lain filsafat, psikologi, kesusasteraan Jerman) di Gottingen, Zurich, dan Bonn. Namun, tak seorang guru pun di tempat Habermas sekolah itu yang benar-benar terkenal dan kebanyakan mereka mendukung Nazi secara terang-terangan atau hanya melanjutkan pelaksanaan tanggung jawab akademis mereka di bawah rezim Nazi sebelumnya. Habermas mendapat gelar doktor dari Universitas Bonn tahun 1954 dan selama dua tahun bekerja sebagai jurnalis.
Jurgen Habermas adalah seorang ahli teori filsuf dan sosial dalam tradisi teori kritis. Karyanya berfokus pada dasar-dasar teori sosial dan epistemologi, analisis masyarakat industri maju kapitalis dan demokrasi dan supremasi hukum dalam konteks sosial-evolusioner kritis, dan kontemporer (khususnya Jerman) politik.
Habermas telah diintegrasikan ke dalam kerangka komprehensif teori sosial dan filsafat pemikiran filsafat Jerman Kant, Schelling, Hegel, Dilthey, Husserl, dan Gadamer, tradisi Marxis - baik teori Marx sendiri serta teori neo-Marxis penting dari Sekolah Frankfurt, Horkheimer yaitu, Adorno, dan Marcuse -, teori-teori sosiologis Weber, Durkheim, dan Mead, filsafat linguistik dan teori tindak tutur Wittgenstein, Austin, dan Searle, tradisi pragamatist Amerika Peirce dan Dewey, dan sosiologis sistem teori Parsons.

B. Pemikiran Jurgen Habermas
Dalam Dialectic of Enlightenment yang diterbitkan pada tahun 1947, Adorno dan Horkheimer menyatakan bahwa usaha untuk mencapai nalar pencerahan dan kebebasan ternyata berdampak pada munculnya bentuk baru irasionalitas dan represi. Pasca perang dunia, Adorno mengembangkan cara berpikir yang disebut dialektika negatif yang menolak segala bentuk pemikiran afirmatif tentang etika dan politik. Sementara Horkheimer semakin tertarik pada teologi. Di titik inilah Habermas, yang bergabung dengan Institut Penelitian Sosial Frankfurt pasca perang dunia, memulai pemikirannya.
Pemikiran Habermas berbicara tentang pengembangan konsep nalar yang lebih komprehensif, yakni nalar yang tidak tereduksi pada instrumen teknis dari subjek individu, dalam pengertian monad, yang kemudian memungkinkan terbentuknya masyarakat emansipatif dan rasional. Usaha ini melahirkan tesis tentang keterkaitan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Tentang hal ini, Habermas mempostulasi keberadaan tiga kepentingan manusia yang berakar. Tiga kepentingan ini adalah: teknis (technical), praktis (practical), dan emansipatoris (emancipatory). Secara berurutan pengertian tiga kepentingan ini adalah kepentingan yang membentuk pengetahuan dalam kontrol teknis terhadap alam, dalam memahami orang lain, dan dalam membebaskan diri dari struktur-struktur dominasi. Barat modern menyaksikan bahwa keinginan menguasai alam berubah menjadi hasrat mendominasi manusia lain. Untuk memperbaiki penyimpangan ini, Habermas menekankan rasionalitas yang inheren dalam kepentingan praktis dan emansipatoris. Dia menegaskan bahwa dasar rasional untuk kehidupan bersama hanya dapat diraih ketika hubungan sosial diatur menurut prinsip bahwa validitas konsekuensi politis tergantung pada kesepakatan yang dicapai dalam komunikasi yang bebas dari dominasi. Konsepsi Habermas tentang teori kritis mengalami kristalisasi pada tahun 60-an dalam karyanya tentang filsafat ilmu sosial, On the Logic of the Social Sciences dan Knowledge and Human Interests. Habermas mengkritik positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, dengan mengatakan bahwa paradigma positivistik sesuai untuk ilmu-ilmu alam yang tujuan akhirnya adalah mengontrol alam. Ilmu budaya (cultural sciences), seperti sejarah dan antropologi, lebih sesuai didekati secara interpretatif. Tapi ketika berbicara tentang ilmu-ilmu sosial, Habermas meyakini bahwa kepentingan teknis seperti dalam ilmu alam dan praktis seperti dalam ilmu budaya seharusnya berada dibawah kepentingan emansipatoris. Dengan demikian, yang harus dilakukan ilmuwan sosial adalah, pertama, memahami situasi subjektif yang terdistorsi secara ideologis dari individu atau kelompok; kedua, memahami kekuatan-kekuatan yang menyebabkan situasi tersebut; dan ketiga, menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan ini bisa diatasi melalui kesadaran individu atau kelompok yang teropresi tentang kekuatan-kekuatan itu.
Habermas adalah seorang pembela proyek modernitas yang tidak terlepas dari zaman Pencerahan. Pembelaan ini didasarkan atas dasar-dasar yang universal. Pencerahan, bagi Habermas, adalah penanda kesadaran bahwa kemampuan berkomunikasi rasional membedakan manusia dari selainnya. Habermas berpandangan bahwa dunia dewasa ini terdiri dari ragam ideal-ideal kehidupan dan orientasi-orientasi nilai yang saling bersaing, yang, karena pengaruh batas-batas bahasa dan institusi, hanya beberapa diantaranya yang mencapai wilayah publik luas. Untuk itu, bagi Habermas, dibutuhkan teori moral normatif. Kondisi modernitas, dimana ideal-ideal individu begitu beragam sehingga etika tidak lagi bisa memaksakan suatu nilai tertentu, membutuhkan prosedur tertentu untuk menyelesaikan konflik. Agar supaya bisa memenuhi tuntutan moral, prosedur dimaksud harus didasarkan pada prinsip bahwa semua manusia harus saling menghormati sebagai pribadi yang merdeka dan setara. Teori kebenaran Habermas bersifat realis, yang berarti bahwa dunia objektif, alih-alih kesepakatan ideal, adalah penentu kebenaran. Jika sebuah pernyataan, yang kita anggap benar, ternyata benar, hal itu karena pernyataan itu dengan tepat merujuk pada objek yang ada atau dengan tepat mewakili kondisi sebenarnya. Habermas menghindari perbincangan tentang metafisika dan lebih memilih berbicara tentang hal-hal yang praktis dan implikasinya untuk diskursus dan tindakan keseharian.
Kunci dari sosial kritis terletak pada upaya pembebasan (pencerahan). Ilmuwan tidak selayaknya mengacuhkan masyarakat –demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan haruslah menyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Karena itu, teori kritis menolak tegas positivisme, dan ilmuwan sosial wajib mengkritisi masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk kritis. Sehingga, teori kritis bersifat emansipatoris. Emansipasi mutlak diperlukan, untuk membebaskan masyarakat dari struktur yang menindas. “Kesadaran palsu” senantiasa ada dalam masyarakat, dan itu harus diungkap dan diperangi. Selain itu, ciri lain dari studi kritis adalah interdispliner.
C. Analisis Pemikiran Habermas
Dalam pemikirannya Habermas mengutarakan mengenai keterkaitan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Kemudian Habernas mempostulasi keberadaan tiga kepentingan manusia yang berakar. Tiga kepentingan ini adalah: teknis , praktis , dan emansipatoris. Secara berurutan pengertian tiga kepentingan tersebut adalah kepentingan yang membentuk pengetahuan dalam kontrol teknis terhadap alam, memahami orang lain, dan membebaskan diri dari struktur-struktur dominasi.
Habernas menekannkan pada rasionalitas untuk mengatasi keinginan manusia yang berhasrat untuk menguasai alam. Dalam dunia ilmu-ilmu sosial, Habermas meyakini bahwa kepentingan teknis seperti dalam ilmu alam dan praktis seperti dalam ilmu budaya seharusnya berada dibawah kepentingan emansipatoris. Teori kritis harus bersifat emansipatoris , hal ini bisa dicapai apabila Ilmuwan tidak mengacuhkan masyarakat demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan harus menyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Hal ini bisa di aplikasikan dalam bentuk pelayanan pemerintah terhadap masyarakatnya, untuk membuat suatu kebijakan. Pemerintah hendaknya terjun langsung didalam masyarakat, sehingga kebijakan yang di buat akan tepat sasaran dan tidak menimbulkan pro-kontra di masyarakat tersebut.
Pemerintahan yang baik adalah pemeritah yang dekat dengan rakyatnya, pejabat-pejabat atau para pegawai pemerintahan yang baik adalah mereka yang memberikan pelayanan yang ramah kepada masyarakatnya. Sehingga pemerintah bisa memperoleh legitimasi yang tinggi dari rakyatnya.
D. Kesimpulan
Dari uraian pendapat Habernas, bisa diketahui bahwa habernas berbicara tentang pengembangan konsep nalar yang lebih komprehensif dan hubungan ilmu alam dengan ilmu sosial. Habernas juga mengemukakan mengenai teori kritis nya, Kunci dari sosial kritis terletak pada upaya pembebasan pencerahan bahwa seorang ilmuan hendaknya berada di tengah masyarakat juga, bukan malah mengacuhkan masyarakat, ilmuan harus mengajak kritis masyarakat disekitarnya. Teori kritis ini bisa diterapkan di Indonesia , salah satu diantaranya adalah melalui bentuk pelayanan yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya.
E. Referensi
http://doktorpaisal.wordpress.com/2009/11/24/biografi-jurgen-habernas/
Fransisko Budi Hardiman, Kritik Ideologi, Yogyakarta, Buku Baik, 2004.

Rabu, 25 Mei 2011

tentang max webber


MAXIMILIAN WEBER (1864-1920)

A. Biografi Max Weber
Maximilian Weber atau yang terkenal dengan sebutan Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia, Jerman tanggal 21 April 1894 dan meninggal di Munchen, Jerman tanggal 14 Juni 1920 tepatnya pada usia 56 tahun. Dia adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiologi dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Weber menempati posisi penting dalam perkembangan sosiologi dimana signifikasinya tidak semata-mata bersifat historis, tapi ia juga menjadi sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh dalam sosiologi kontemporer. Weber tidak sejalan dengan pandangan politik ayahnya dan sering kali berselisih pendapat karena liberalism Weber yang sangat mendukung demokrasi dan kebebasan manusia. Ibunya, Helen Weber, adalah seorang Protestan-Calvinis, dengan ide-ide absolutis moral yang kuat. Weber sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan serta pendekatan ibunya kepada kehidupan. Meskipun Weber tidak menyatakan sebagai seorang yang religius, tetapi agama juga mempengaruhi pikiran dan tulisan-tulisannya. Misalnya, selain meneliti agama Kristen, Weber juga mempelajari agama-agama lain secara luas, seperti Konfusianisme, Hindu, Budha, Yahudi dan Islam. Buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism merupakan sebuah model dari metode historis dan sosiologis yang ditempuh Weber dalam meneliti tentang hubungan antara Calvinisme dan kemunculan kapitalisme.
Pendidikan Weber ditempuh di universitas Heidelberg, Goettingen dan Berlin, dan ia melanjutkan di perguruan tinggi yang disebut terakhir itu setelah memperoleh kualifikasi untuk praktik hukum di pengadilan-pengadilan di kota besar itu. Dia memperoleh gelar profesor penuh dalam bidang ekonomi di Freiburg dalam usia tiga puluh tahun, sebuah prestasi yang sangat menonjol dalam dunia akademis Jerman yang terkenal hierarkis dan berorientasi senioritas. Pada tahun 1896 ia memperoleh jabatan mengajar di Heidelberg, tetapi setahun kemudian ia menderita kelumpuhan syaraf yang, meskipun sudah sembuh sebagian, tidak memungkinkannya untuk mengemban secara penuh jabatan akademis itu selama sisa hidupnya. Selama empat tahun ia tidak aktif dalam pengembangan intelektual. Kemudian setelah itu selama 14 tahun, ia dapat menjalankan tugas-tugas akademis
B. Pemikiran Max Weber
Karya Weber yang paling populer adalah esai yang berjudul “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme”, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur. Dalam karyanya yang terkenal lainnya, “Politik sebagai Panggilan”, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik Barat modern.
Berikut ini adalah poin-poin penting dari pemikiran Weber:
1. Pengaruh Intelektual
Bersamaan dengan pendapat filsafat Immanuel Kant (1724-1804) uang berpendapat bahwa “Metode-metode ilmu pengetahuan alam memberikan kita suatu pengetahuan yang benar mengenai dunia fenomenal eksternal yaitu dunia yang kita alami melalui rasa-rasa kita”. Karena sosiologi mesti memperhatikan analisa-analisa empirik dari masyarakat dan sejarah, metode sosiologi tentunya berbeda dengan metode ilmu pengetahuan alam. Analisa sosiologis meneliti dan mempelajari tindakan sosial dan konteks interaksi sosial, dan harus interpretive (didasari oleh pemahaman, verstehen), tidak melihat manusia sebagai objek yang hanya didorong oleh kekuatan-kekuatan impersonal. Pengaruh-pengaruh seperti ini dapat dilihat dalam pendekatan Weber mengenai metodologi, pemahaman dan tindakan sosial. Dari sinilah, Weber mengkritik pemikir positivis seperti Comte yang berusaha menyamakan ilmu sosial dengan ilmu alam. Kedua disiplin ilmu tersebut tidak bisa disamakan, ilmu alam lebih menekankan pada “penjelasan” (explanation; erklaren), sementara ilmu sosial sangat terkait dengan “pemahaman” (understanding; verstehen). Seperti Dilthey, Weber lebih menekankan pentingnya makna subjektif dan menolak bahwa kebudayaan manusia dapat difahami secara memadai tanpa interpretasi nilai.
2. Ideologi dan Paham Individualisme
Weber sangat apresiatif terhadap paham individualism. Bahkan ia memperjuangkan faham ini. Ia juga menganggap dirinya sebagai seorang yang liberal, tetapi liberalismenya adalah “authoritarian liberalism”. Disamping itu, ia juga pembela kapitalisme Barat yang gigih, tetapi pada saat yang sama ia juga menjelaskan karakteristik kapitalisme yang kontradiktif dan berpotensi merusak. Ia sangat mendukung kebebasan, tetapi sangat skeptis terhadap demokrasi popular, dan tidak pernah meninggalkan ketertarikannya pada kepemimpinan politik yang otoriter dan despotik.
3. Konsepsi Ilmu Sosial dan Metodologi Weber
a. Penekanan Weber adalah pada tindakan sosial (social action), bukan struktur sosial. Dalam hubungan ini, ia membedakan empat tipe utama tindakan sosial: zweckrational (rasionalitas tujuan), wertrational (rasionalitas nilai), affective action (tindakan afektif) dan traditional action (tindakan tradisional).
b. Penekanan pada makna (meaning). Disini ia mengemukakan suatu metode penelitian yang spesifik, yaitu verstehen. Metode ini dapat digambarkan sebagai upaya memahami aksi sosial melalui pemahaman empatik terhadap nilai dan kebudayaan orang lain.
c. Ketiga, penekanan pada sosiologi bebas nilai. Dalam hal ini, Weber menyatakan bahwa ilmu selamanya tidak boleh menyajikan norma dan ideal-ideal yang mengikat, dan dijadikan acuan bagi aktifitas praktis.
4. Sosiologi Agama dan Etika Protestan
Weber mengungkapkan bahwa segi keagamaan Kristen yang paling berpengaruh bagi pertumbuhan kapitalisme modern adalah justru asketisme. Asketisme ini dalam perkembangan agama Kristen, diwakili secara ekstrem dalam puritanisme yang muncul di Inggris pada abad ke-16 dan 17 sebagai kelanjutan dan perkembangan Calvinisme di Jenewa, Swiss. Asketisme kaum puritan memancar dalam etika mereka. Dalam buku Antropologi Agama, Brian Morris, memaparkan beberapa kritik terhadap tesis Weber ini. Kritik yang paling umum adalah penolakan terhadap berbagai korelasi atau pertalian antara Protestantisme dan Kapitalisme dengan didasarkan kepada landasan-landasan empiris. Misalnya, kapitalisme telah ada di negara-negara seperti Itali, Perancis, Spanyol, Portugal sebelum dan terlepas dari etika Protestan.
5. Kepemimpinan Kharismatik dan Kharisma
Kharisma dipandang oleh Weber sebagai kekuatan inovatif dan revolutif, yang menentang dan mengacaukan tatanan normatif dan politik yang mapan. Otoritas kharismatis didasarkan pada person ketimbang hukum impersonal. Pemimpin kharismatik menuntut kepatuhan dari para pengikutnya atas dasar keunggulan personal, seperti misi ketuhanan, perbuatan-perbuatan heroik dan anugerah yang membuat dia berbeda.
C. Analisis dan Kritisi serta Implementasi Pemikiran Weber
Analisis terhadap pemikiran Weber, saya akan memberikan contoh penjelasan dari pemikiran yang dikluarkan oleh Weber. Yaitu tentang kepemimpinan Kharismatik dan kharisma. Satu contoh hal itu adalah representatif adalah kharisma yang dimiliki oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mewarisi kharisma melalui hubungan darah, keturunan, dan institusi, disamping pengetahuan Gus Dur yang mendalam tentang masalah-masalah sosial, politik serta keagamaannya. Gus Dur telah mengeluarkan beberapa pemikiran keagamaan maupun masalah-masalah kemanusiaan dan demokrasi yang telah mengguncang tatanan normatif masyarakat Islam tradisional NU. Gus Dur yang lahir di daerah Jombang mempunyai seorang kakek yang kharismatik Hasyim Asy’ari yang merupakan satu dari pemimpin Muslim terbesar Indonesia serta seorang ayah Whid Hasyim yang juga merupakan tokoh penting dan pernah menjabat posisi Menteri Agama pada tahun 1945. Kharisma itulah yang membuat para pengikut Gus Dur sangat loyal, bahkan sekalipun tindakan Gus Dur seringkali sulit dipahami dan membingungkan banyak orang. Masyarakat tradisional NU bahkan berani mati untuk mendukung tokoh ini. Ini terbukti dengan dibentuknya “pasukan berani mati” untuk membela Gus Dur dari upaya-upaya yang ingin menjatuhkan kekuasaannya, sekalipun pembentukan pasukan ini juga mengundang kontroversi di kalangan NU juga.
Salah satu poin pokok Weber adalah tentang agama Kristen yang berpengaruh terhadap pembentukan kapitalisme dalam masyarakat modern. Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Kapitalisme yang dimaksud adalah sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif. Hal seperti itu memang baik, tapi dalam konteks masyarakatnya masih kurang memuaskan, karena hanya menekankan kepada dirinya sendiri dan tidak rasional dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya.
D. Kesimpulan
Pada dasarnya semua pemikiran yang telah dikemukakan oleh Weber merupakan salah satu pemikiran yang menunjukan demi kemajuan masyarakat. Pendapatnya tentang masyarakat adalah, masyarakat muncul secara abstark yaitu khayalan yang menunjukkan tentang kelahiran modernitas yang dijanjikan oleh pemikir sosial dalam lingkungan masyarakatnya. Weber menjelaskan tentang agama, kapitalisme, dan rasionalisasi merupakan bentuk masyarakat moder yang mempresentasikan institusionalisasi dan instrumental rasionalitas atas semua bentuk dukungan masyarakat. Kapitalisme modern merupakan akhir perjalanan akhir dari proses rasionalisasi. Weber juga melihat ada keterkaitan antara kehidupan penganut Calvinis yang diberi pedoman oleh agama mereka dan jenis perilaku serta sikap yang diperlukan bagi kapitalisme agar mereka bekerja secara efektif.
Menurut Max Weber bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.

di himpun dari berbagai sumber..

tebakan, profesor kodok



silahkan ditebak..
Profesor Kodok

Pada suatu hari dikisahkan ada seorang profesor yang sedang berlibur ke sebuah pedesaan yang indah di sekitar lereng Gunung Merapi. Hari pertama di isi dengan berkeliling ke area persawahan yang hijau, sang profesor begitu terpesona akan keindahan alam disana, sang profesor berkeliling di area persawahan dan bertemu dengan para petani yang sedang bercocok tanam. Sang profesor kemudian berjalan menuju ke sebuah sungai yang air nya jernih sambil berimajinasi mengaplikasikan ilmu nya di alam sekitar.
Tidak berapa lama kemudian ada seorang petani yang menghampiri sang profesor, kemudian mereka ngobrol-ngobrol bercerita mengenai kehidupan masing-masing, sang profesor dengan bangganya menceritakan keahliannya dalam bidang sains, petani pun terkagum-kagum mendengar cerita sang profesor yang pandai tersebut. Petani pun tag ketinggalan akal, melihat ada kodok di dekat nya, petani melemparkan sebuah pernyataan, “ Prof, berapa kali kodok akan meloncat sehingga bisa menyebrangi sungai ini ? ‘’ sebelum Profesor menjawab pertanyaan tersebut, Profesor bertanya dulu kepada petani “ berapa lebar sungai ini ‘’ ?, 1o Meter Prof, jawab petani.. Profesor itupun mencoba menjawab dengan mencoba menerapkan ilmu yang ia dapatkan.....
Bagaimana jawaban dari pernyataan masalah di atas ????..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More