Bersama KELUARGA MAHASISWA KLATEN UNIVERSITAS DIPONEGORO

dokumentasi pribadi dalam berbagai kesempatan kegiatan.

KMK UNDIP 2009

outbound keluarga mahasiswa klaten undip 2010, kmk angkatan 2009.

@ Gedung FISIP Undip

bersama rekan seperjuangan di S1 ilmu pemerintahan reg 1 angkatan 2009 fisip undip.fotoku malah ga kliatan ig

narsis mode on

berada di depan pusat pemerintahan kabupaten Klaten, smoga kelak aku bisa berkontribusi nyata untuk kota kelahiranku tercinta

DA 14

bersam temen seperjuangan di Dewan Ambalan SMANSA Klaten, miss u all

Senin, 08 Agustus 2011

dariku untuk mu....


Ucapan dariku untukmu...

Dariku untukmu
Untuk kamu yang disana
Mengarungi kehidupanmu disana
Mencari arti sebuah kehidupan
Mencari warna-warni indahnya kehidupan

Trimakasihku untuk mu
Yang telah memberi warna dalam hari ku
Kini ku sendiri disini tanpamu
Ku hanya bisa sedikit melihatmu disana
Mungkin sudah dengan yang lain,

Trimaksiku untuk mu
Kau membangkitkan semangatku
Harikupun makin berwarna
Walo kini engkau tag lagi disini

Eantah apa alasan nya
Beribu alasan menjadi misteri hingga kini
Ku tag pernah tau pasti

Selamat berjuang kau disana
Raih semua cita-citamu
Jalanmu akan menentukan hari-harimu
Kelak kau berwarna-warni jangan lupa masa perjuanganmu
Selamat berjuang
Good luck

Jumat, 05 Agustus 2011

Refleksi dan Tindakan


Berapa umur negara Indonesia, Berapa Umur Negara Mesir, Berapa Umur Negara Singapura? Pertanyaan mengenai berapa umur suatu negara akankah memepengaruhi suatu negara tersebut dalam golongan negara maju atau negara miskin? Jawabnya TIDAK. Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju tidak tergantung pada umur negara itu. Singapura misalnya, umurnya belum sampai 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka bagian dari negara maju di dunia.
Lalu akupun bertanya, bagaimana ketersediaan Sumberdaya Alam yang dimiliki oleh suatu negara? Akankan juga akan mempengaruhi kemajuan suatu negara? Jawabannya TIDAK. Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian & peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.
Lain lagi dengan Swiss, Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban – tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan . Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa .
Lalu……. apa perbedaannya?
Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.
Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.
Prinsip Dasar Kehidupan
1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
2. Kejujuran dan integritas
3. Bertanggung jawab
4. Hormat pada aturan & hukum masyarakat
5. Hormat pada hak orang/warga lain
6. Cinta pada pekerjaan
7. Berusaha keras untuk menabung & investasi
8. Mau bekerja keras
9. Tepat waktu
Di negara terbelakang/miskin/ berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut
Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita.
Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.
Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.
Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!!!
Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapat kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.
TETAPI….. jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan…... dan akan menjadi lebih miskin lagi.
Jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka merefleksikan hal ini.
Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin BERUBAH dan BERTINDAK!
dan ……. PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI


sumber : sebuah file power point di laptop penulis (dg sdikit penambahan)

Senin, 01 Agustus 2011

selamat ulang taun kota kelahiranku..


27 Juli 2011, tepat 207 tahun usia kota kelahiranku ini, selamat ulang taun KLATEN,, Semoga makin bersinar dan rakyatnya semakin sejahtera # amin..
. menjelang usianya yg ke 207, gejolak permasalahanpun mencuat, mulai dari kasus proyek OMAC yg dinilai tidak sesuai dg rencana hingga terancam bangkrutnya pemda klaten beberapa taun kedepan karena masalah belanja anggaran pegawai yg mencapai 70%. bisa bangkrut beneran nii??

lalu yg menjadi pertanyaanku adalah, di usia yg ke 207 taun ini apa yg sudah di capai pemerintah kabupaten? jawabannya pun beragam setiap orang mempunyai pendapatnya. mau jawaban yg pasitif maupun negatif pasti terjawab, lalu bagaimana menurut kalian??
kalo menurutju sih relatif yaa..

begitu banyak harapan untuk kemajuan daerah ini, letaknya yang straegis diantara kota jogja dan solo setra dukungan SDA yg melimpah bisa dijadikan salah satu upaya untuk mencapai kesejahteraan penduduk di kota ini.

tokoh-tokoh besar negeri ini juga banyak yg lahir dari klaten, sebut saja pak hidayat nur wahid, hendarman supanji , rektor undip prof sudarto dll..

geliat para pemuda di kota ini juga terasa denyutnya, sebut saja adanya perkumpulan mahasiswa klaten di universitas'' ( KMK ) dsb

selamat ulang taun kota ku., sejahtera rakyatnya.
amin :)

Jumat, 01 Juli 2011

siswa KLATEN yang lolos SNMPTN UTUL UNDIP


dari data yang kmk undip peroleh datanya sebagai berikut
. nama/asal sma/keterima di jurusan
1. Erika Prilly Diah Setiorini/ Kr anom/ Keperawatan
2.sulistyani/smansa/tekling
3.sholikhah w.s/smansa/gizi
4.wuri indri a./smansa/kperwtn
5.adam wicaksno/smansakar/tek.elektro
6.fitria ardiani/jogza/fkm
7.Febriana Habibah / Hukum
8.intan daryanti/jogza/fkm
9.raditya wahyu utama/smada/t.geodesi
10.hima/smada/sastra inggris
11. annisa/smanca/akuntansi

bagi temen dari klaten yang di terima di undip namun belum tertulis di atas, harap hubungi blog ini dengan meninggalkan coment yaa..
trimakasiii

Rabu, 08 Juni 2011

Program Ketahan Pangan Nasional




Tugas Mata Kuliah

MANAJEMEN STRATEGIS

Program Ketahan Pangan Nasional













Disusun Oleh:
GALIH MARENDRA
D2B009040


JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara agrasis yang memiliki sumberdaya alam yang beraneka ragam. Kekayaan yang ada di Indonesia sudah semestinya digunakan untuk kesejahteraan masyarkatnya. Sebagai Negara agraris, Indonesia kaya akan jenis bahan pangan yang tersebar di berbagai wilayah. Selain beras sebagai bahan pangan pokok utama, Indonesia kaya akan jagung, sagu, umbi-umbian, sebagai sumber karbohidrat. Apa yang ada di alam Indonesia sudah cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pengelolaan yang benar adalah kunci utamanya.
Jumlah Penduduk Indonesia yang cenderung selalu meningkat setiap tahunnya berakibat dengan ketersediaan pangan yang juga akan meningkat. Hingga saat ini saja, Indonesia masih harus mengimport beberapa komoditas utama pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Dengan besarnya jumlah penduduk tanpa di imbangai dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadikan negara tersebut menjadi objek pasar produk pangan import. Ketergantungan ini tentunya bukan hanya merugikan dari segi ekonomi saja, melainkan juga menimbulkan kerawana pada bidang sosial dan politik.
Dukungan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, belum mampu untuk mewujudkan tercapainya ketahanan pangan nasional, terbukti dengan masih adanya import beberapa bahan pangan dari negara lain. Apa yang salah dari Indonesia sehingga masih belum bisa mencapai swasembada pangan?. Kalau melihat sejarahnya, Indonesai pernah mencapai swasembada pada era 1980an, akan tetapi hal itu tidak bisa dipertahnkan hingga saat ini.
Kemajuan pada bidang pembangunan memberi dampak yang kurang baik dalam bidang pertanian, pembangunan kawasan industri atau alih fungsi lahan di beberapa daerah menyebabkan berkurangnya lahan pertanian sebagi penghasil produk pangan. Rendahnya tingkat pendapatan yang diperoleh oleh petani juga menyebabkan penurunan minat masyarakat Indonesia untuk bekerja di sektor pertanian. Kemajuan dalam bidang pertanian belum sepenuhnya membuahkan hasil, tingkat penguasaan teknologi para petani yang masih rendah membuat daya saiang produk pertanian kita semakin tidak kompetitif.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, dalam penyusunan makalah ini akan dibahas beberapa point penting, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan Ketahanan Pangan ?
2. Bagaimana strategi yang dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan?
3. Apa hambatan yang di hadapi?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Sekilas mengenai Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau (UU No. 7 Tahun 1996). Ketahanan pangan meliputi ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai bagi seluruh penduduk Indonesia.
Ketahanan pangan bukan sekedar tersedianya pangan saja, melainkan kemampuan untuk mengakses pangan dan tidak tergantung dari pihak manapun. Melihat hal ini, sesungguhnya para petani mempunyai kedudukan strategis dalam ketahan pangan. Petani merupakan produsen pangan sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih berada di garis kemiskinan.
Apabila kita lihat, tujuan program ketahanan pangan meliputi :
1. Meningkatnya ketersediaan pangan.
Jumlah penduduk yang terus meningkat di Indonesia harus di Imbangi dengan ketersediaan pangan. Kasus gizi buruk, busung lapar bisa jadi karena masyarakat tidak mampu membeli kebutuhan pangan mereka.
2. Mengembangkan diversifikasi pangan.
Selama ini makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia adalah beras, melihat kondisi dilapangan, keberadaan beras juga masih belum mencukupi dengan kebutuhan yang di butuhkan masyarakat. Pemanfaatan potensi makanan pokok berbasis kedaerahan akan membantu peningkatan program ketahan pangan nasional. Diversifikasi pangan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan pokok alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
3. Mengembangkan kelembagaan pangan.
Keberadaan peran dan fungsi lembaga pangan seperti kelompok tani perlu di kembangkan untuk mendukung pembangunan kemandirian pangan. Pembinaan kelompok tani bisa dilakukan untuk turut membantu pelaksanaan program ketahanan pangan dari pemerintah. Lembaga pangan bisa menangani hasil pasca panen, dan mengolah produk pangan menjadi produk yang bernilai lebih tinggi.
4. Mengembangkan usaha pegelolaan pangan.
Usaha pengelolahan yang selama ini rata-rata berbasis rumah tangga, bisa di tingkatkan lagi untuk dikembangkan menjadi usaha pengelolaan pangan yang lebih besar.
Sebagai negara agraris, Indonesia mempunyai banyak peluang untuk mencapai ketahan pangan nasional. Keragaman sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar dapat dimanfaatkan melalui pemanfaatan dan pengembangan pangan. Perkembangan teknologi yang pesat dalam berbagai aspek ; produksi, pasca panen dan pengolahan produk pertanian, distribusi, pemasaran untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan, produktivitas dan efisiensi, meningkatkan keuntungan agribisnis pangan, dan ketahanan pangan. Serta adanya perubahan manajemen pembangunan dan pemerintah kearah desentralisasi dan partisipasi masyarakat yang memudahkan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan dengan memperhatikan sumber daya, kelembagaan dan budaya local (berbasis kedaerahan).

B. Strategi mencapai Ketahanan Pangan
Adanya kebijakan penyeragaman pangan pokok ke beras pada era orde baru, telah membuat konsumsi pada masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Dengan ketergantungan terhadap suatu jenis bahan makanan bisa menyebabkan terjadinya kerawanan pangan. Kondisi ini bisa menjadi sebuah jebakan pangan dan mengancam ketahan pangan Indonesia. Upaya untuk mencapai ketahan pangan nasional juga telah di tuangkan dalam rencana strategis kementerian pertanian 2010-2014. Dalam renstra kementerian pertanian tersebut telah dirumuskan upaya upaya strategis untuk mewujudkan pencapaian swasembada dan swawembada berkelanjutan. Di dalam renstra kementerian pertanian 2010-2014 disebutkan bahwa substansi inti program aksi ketahanan pangan adalah sebagai berikut:
a) Lahan, Pengembangan Kawasan dan Tata Ruang Pertanian: Penataan regulasi untuk menjamin kepastian hukum atas lahan pertanian, pengembangan areal pertanian baru seluas 2 juta hektar, penertiban serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar.
b) Infrastruktur: Pembangunan dan pemeliharaan sarana transportasi dan angkutan, pengairan, jaringan listrik, serta teknologi komunikasi dan sistem informasi nasional yang melayani daerah-daerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya.
c) Penelitian dan Pengembangan: Peningkatan upaya penelitian dan pengembangan bidang pertanian yang mampu menciptakan benih unggul dan hasil peneilitian lainnya menuju kualitas dan produktivitas hasil pertanian nasional yang tinggi.
d) Investasi, Pembiayaan, dan Subsidi: Dorongan untuk investasi pangan, pertanian, dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah, penyediaan pembiayaan yang terjangkau, serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji, pupuk, teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu, tepat jumlah, dan terjangkau.
e) Pangan dan Gizi: Peningkatan kualitas gizi dan keanekaragaman pangan melalui peningkatan pola pangan harapan.
f) Adaptasi Perubahan Iklim: Pengambilan langkah-langkah kongkrit terkait adaptasi dan antisipasi sistem pangan dan pertanian terhadap perubahan iklim.
Perluasan lahan pertanian diluar jawa harus segera dilakukan lagi, karena lahan pertanian yang ada sekarang ini justru semakin berkurang karena untuk keperluan bisnis. Pembukaan lahan baru bisa mendorong penambahan hasil pertanian.
Strategi yang bisa dikembangkan dalam upaya kemandirian pangan antara lain sebagai berikut :
1. Kebijakan yang berorientasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan (petani) sekaligus meningkatkan produksi pangan nasional. Misalnya kebijakan perluasan lahan pertanian dengan memberdayakan masyarakat sekitar, sehingga masyarakat (petani) memiliki luas lahan yang memberikan keuntungan untuk dikelola sekaligus meningkatkan produktivitas usaha taninya. Kebijakan ini bisa diterapkan di luar pulau jawa, mengingat masih luasnya lahan di luar jawa.
2. Kebijakan diversifikasi pangan. Ini merupakan kebijakan yang bertujuan unntuk membiasakan rakyat mengkonsumsi makanan sehari-hari dari berbagai jenis pangan. Dengan terwujudnya kebiasaan makan yang baru tersebut, ketergantungan terhadap salah satu komoditas pangan dapat berkurang. Kenijakan ini bisa berupa pemberdayaan masyarakat lokal.
3. Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan.
4. Revitalisasi industri produksi pertanian, misalnya adanya bibit unggul, ketersediaan pupuk dan saran pertanian lainnya.
5. Penanganan pasca panen serta pengolahan pangan.
6. Memperdayakan lembaga pangan, seperti Koperasi, UKM , Kelompok Tani maupun lumbung desa.
7. Kebijakan yang kondusif dari pemerintah untuk terciptanya kemandirian pangan, seperti perlindungan lahan pertanian, kredit pembiayaan pertanian dll.
Sinergitas anatara lembaga pemerintahan juga diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional, pernah diberitakan bahwa guna mendukung program ketahanan pangan, BUMN mengalokasikan dananya untuk mendukung ketananan pangan melalui progra Gerakan Produksi Pangan dengan sistem Korporasi (GPPK). BUMN bekerja sama guna mendukung peningkatan produksi beberapa komoditas pangan.
C. Tantangan Ketahanan Pangan Nasional.
Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam di Indonesia hingga saat ini belum bisa digunakan untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. Adanya kasus busung lapar, kurang gizi yang terjadi beberapa waktu lalu menandakan bahwa masyarakat di Indonesia belum merdeka mengenai hal akan pangan.
Beberapa komoditas pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat masih harus didatangkan dari negara lain di tengah kekayaan alam indonesia yang melimpah. Harga komoditas pangan yang fluktuatif juga membuat masyarakat geram, kenaikan harga pangan seringkali membuat masyarakat harus berfikir ulang supaya kebutuhannya bisa tercukupi ditengan kondisi perekonomian yang sulit.
Upaya pembangunan ketahanan pangan nasional juga mengalami tantangan yang berat. Banyak faktor yang mempengaruhinya, alih fungsi lahan pertanian menjadi masalah yang tidak akan ada habisnya, banyak di daerah terjadi alih fungsi lahan pertanian produktif untuk digunakan sebagai kawasan perumahan ataupun kawasan bisnis lainnya. Tentunya kondisi ini akan mempengaruhi hasil dari produk pertanian.
Kondisi infrastruktur yang masih belum memadai seringkali menghambat dalam pendistribusian pangan dariu daerah satu kedaerah lainnya. Kondisi ini bisa menyebabkan mahalnya harga pangan di tangan konsumen. Penerapan teknologi bidang pertanian yang belum maksimal membuat hasil produk pangan belum begitu banyak hasilnya.
Kondisi cuaca yang akhir-akhir ini yang kurang bersahabat dengan petani membuat petani kebingungan mau menanam komoditas pangan apa yang cocok dengan musim. Ditambah serangan hama yang sering kali menyerang tanaman menjelang panen ataupun pasca menanam membuat petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan tanaman pangan yang ditanamnya. Seranagn hama sering kali membuat petani gagal panen, sehingga gagal menghasilkan produk pangan.
Kondisi pertanian yang masih tradisional juga menjadi perhatian, petani tradisional biasanya menanam komoditas untuk keperluan mereka saja, peluang untuk memberikan pemahaman baru bagi para petani tradisional turut akan meningkatakan hasil produk pangan dari mereka serta secara tidak langsung juga akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Komoditas pangan import yang dipengaruhi harga minyak bumi membuat Indonesia harus berhati-hati, karena apabila harga minyak mengalami kenaikan sudah bisa dipastikan bahwa harga komoditas pangan import tersebut juga akan mengalamai kenaikan.


BAB III
PENUTUP
Kekayaan alam Indonesia akan sumber bahan pangan alami harus dieksplorasi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Ketahanan pangan bukan sekedar tersedianya pangan saja, melainkan kemampuan untuk mengakses pangan dan tidak tergantung dari pihak manapun. Banyak sekali upaya yang bsa dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional salah satunya melalui diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan pokok alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
Upaya mencapai ketahanan pangan harus didukung oleh semua elemen masyarakat. Pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian telah menyusun rencana strategisnya guna mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan dan peningkatan diversifikasi pangan untuk mencapai kondisi pertanian yang unggul dan berdaya saing.
Ditengah berbagai peluang untuk mencapai ketahanan pangan nasional, Indonesia juga dihantui terjadinya rawan ketahanan pangan, ketergantungan bahan pangan dari negara lain, misalnya kedelai dan gandum belum bisa di atasi. Kemandirian pangan Indonesia harus di dorong terus, ketergantungan dari negara lain hanya akan menjadikan Indonesia sebagai negara konsumen saja. Pembangunan di sektor pertanian harus menyentuk semua elemen, dari hulu sampai hilir.
Kearifan lokal menjadi tameng yang semakin penting untuk kedepannya, sejalan dengan peningkatan peranan dunia usaha di bidang pertanian tanaman pangan. Peran dunia usaha memproduksi komoditas pangan memang sulit untuk dihindari, sebaliknya peranan tersebut perlu terus didorong. Sementara peran pemerintah lebih terfokus pada regulasi dan penyediaan infrastruktur pertanian. Meski demikian, peranan dunia usaha tetap harus sejalan dengan kearifan lokal yang telah tumbuh dan berkembang pada kehidupan masyarakat selama ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.jembatanselatsunda.com/agp/index.php?option=com_content&view=article&id=1006%3Akearifan-lokal-meningkatkan-ketahanan pangan&catid=52%3Aumum&Itemid=57&lang=in
http://www.perumperhutani.com/index.php/news/detail/dukung_ketahanan_pangan_bumn_alokasikan_rp_41_t/
http://www.biaknumfor.com/index.php?option=com_content&view=article&id=162:pangan-lokal-diperkuat-untuk-dukung-program-ketahanan-pangan&catid=23:februari
http://bkppkukar.com/berita.php?id=11
Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014

Sabtu, 28 Mei 2011

“NELAYAN, BERTARUNGLAH,,,!”


BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai negara kepulauan, Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau yang tersebar dari sabang sampai marauke. Begitu juga dengan mata pencaharian penduduknya, terutama penduduk pesisir pantai yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Letak Indonesia yang sangat strategis juga menjadi penyebab Indonesia memeliki kekayaan alam yang sangat melimpah terutama sumber daya lautnya. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa dari pemberdayaan hasil kelautan sangat menopang perekonomian Indonesia saat ini. Tetapi dengan kekayaan alam yang melimpah seperti ini tidak diimbangi oleh sumber daya masyarakat dan pemerintahannya. Selain itu negara kita juga tertinggal dalam bidang teknologi dengan negara-negara tetangga sehingga ibarat kata nelayan-nelayan kita sering kalah skak dalam hal eksploitasi sumber daya laut. Ketidaksejahteraan nelayan-nelayan kita diperparah oleh kebijakan pemerintah yang kurang kuat dan mendukung para nelayan. Pemerintah tidak membatasi gerak-gerik nelayan besar yang menggunakan kapal dengan mesin dan alat pancing tertentu yang menyebabkan nelayan-nelayan kecil kurang mendapat hasil. Biasanya kapal-kapal tersebut merupakan milik perusahaan besar yang tujuannya untuk diekspor atau bahkan mungkin perusahaan ilegal. Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang tepat bagi nelayan sehingga para nelayan tidak mendapat kesulitan dalam melakukan aktivitasnya. Pemerintah juga harus bersikap tegas dalam menangani masalah-masalah kapal-kapal asing yang masuk kedaerah perairan Indonesia dan memberi sanksi yang tegas bagi kapal-kapal tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Permasalah Besar Para Nelayan Indonesia
Sebagian besar permasalahan yang dihadapi oleh nelayan di Indonesia adalah cuaca ekstrem yang melanda perairan Indonesia sekitar awal tahun 2011 ini. Pendapatan mereka menurun ketika pemerintah mengklaim bahwa cuaca di lautan Indonesia sedang tidak bersahabat. Langkah awal pemerintah untuk menangugulangi hal tersebut adalah mensubsidi beras selama 14 hari kepada para nelayan. Hal ini dianggap sebagai penanggulangan jangka pendek. mereka merasa pemerintah tidak adil terhadap apa yang pemerintah berikan. ketidakadilan tersebut dapat terlihat pada saat ini, yaitu ketika masyarakat kita sedang mengalami kesulitan (khususnya para nelayan) justru pemerintah pusat sedang ribut akan pembangunan gedung baru DPR. Sebelumnya, sekitar tahun 2010 pemerintah telah melakukan restrukturisasi pengadaan kapal motor. Namun sebagian nelayan menganggap bahwa pengadaan kapal motor tersebut salah sasaran dalam pelaksanaannya.
Permasalahan yang sedang dihadapi nelayan harus segera diatasi. Misalnya permasalahan tentang peralatan berlayar dalam mencari ikan yang masih tradisional. Begitu pula kurangnya sarana dan prasarana dalam mengembangkan hasil tangkapan ikan dan juga mahalnya harga bahan bakar kapal para nelayan berupa solar. Permasalahan lainnya yang begitu penting adalah pemerintah Indonesia belum mempunyai sistem informasi yang akurat dan canggih tentang perubahan iklim dan cuaca di Indonesia. Jika pemerintah memiliki alat canggih pendeteksi iklim dan cuaca serta pemerintah memberikan sistem GPS kepada setiap kapal yang dimiliki para nelayan, mungkin para nelayan itu tidak akan nekat untuk mencari tangkapan ikan di cuaca dan iklim yang ekstrem itu. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi seperti itu membuat nelayan enggan mendengarkan instruksi dari pemerintah. Seharusnya pemerintah memberi perhatian yang lebih kepada nelayan dengan memperhatikan nasib para nelayan seperti memberikan subsidi berupa alat-alat melaut yang dibutuhkan. Biasanya nelayan mengalami kesulitan dalam memasarkan ikan dengan harga yang layak. Sebab sebagian pembeli seenaknya menentukan harga padahal untuk mendapatkan ikan tersebut butuh perjuangan yang tidak mudah. Para nelayan berharap agar pemerintah mau bekerjasama dan membantu nelayan, misalnya dalam hal pemasaran atau subsidi alat nelayan. Dengan demikian hidup nelayan lebih terbantu dan terjamin.


Kebijakan Strategis Pemerintah Indonesia
Sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap keberlangsungan masyarakat khususnya di daerah pesisir, pemerintah seharusnya memberlakukan sistem kepekaan terhadap sistem dan teknologi yang digunakan para nelayan untuk mencari tangkapan ikannya. Hal tersebut berkaitan langsung dengan kebijakan strategis pemerintah. Antisipasi terhadap permasalahan yang dihadapi para nelayan adalah bentuk kesiapan jangka panjang nelayan untuk mengurangi kegagalan panen tangkapan ikan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tindakan strategis yang seharusnya pemerintah lakukan untuk menangani permasalahan yang timbul.
1. Dalam penanganan permasalahan diatas, pemerintah seharusnya membuat sebuah program, dimana program tersebut mencakup beberapa aspek. Sebagai contoh memberikan pelatihan melalui BLK dan juga pemberian dana talangan (pinjaman) melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB).
2. Pemerintah membuat standar kelayakan pemakaian kapal, seperti kapal-kapal yang dinilai tua dan tidak layak pakai lagi tidak boleh berlayar. Selaian itu, kapal-kapal nelayan yang sekarang ini rata-rata masih menggunakan kapal kecil, alangkah lebih baik untuk diganti dengan kapal yang lebih besar dan lebih modern sehingga bisa mencari ikan yang lebih banyak.
3. Pemerintah harus bisa menyediakan alat-alat teknologi yang canggih dan modern, hal ini berguna untuk mengantisipasi perubahan iklim dan cuaca yang terus menerus berubah secara ekstrem.
4. Pemberian sistem GPS terhadap kapal-kapal nelayan untuk mempermudah terhadap penangkapan ikan dan tanpa harus bekerja keras.
5. Pemberdayaan istri nelayan untuk turut mengembangkan perekonomian keluarga. Istri nelayan bisa mengembangkan usaha pengolahan hasil tangkapan hasil laut untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi tinggi serta bisa melalui kelompok usaha atau koperasi nelayan, sehingga perekonomian keluarga nelayan tidak hanya bertumpu pada suami saja. Koperasi nelayan juga bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan produk dari nelayan.
Beberapa kebijakan yang disebutkan diatas merupakan kebijakan yang bersifat jangka panjang. Keberadaan pemerintah di tengah-tengah masyarakat sangat diperlukan dan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat (khususnya nelayan) untuk mendukung kebijakan yang telah dibuat pemerintah. Keberhasilan kebijakan pemerintah dapat diukur ketika sebuah kebijakan tetsebut diinterpretasikan serta dengan transparansi yang jelas dan akuntabilitas kebijakan. Proses evaluatif kebijakan memerlukan tindakan, kerja sama dan proses aktualitas. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat tersebut memberikan peluang kepada para nelayan agar keberhasilan panen ikan melimpah dan kelayakan hidup nelayan terpenuhi dan terjamin.
Keterlibatan dari dinas perikanan dan kelautan serta para akademisi juga diperlukan dalam upaya menanggulangi permasalahan yang di hadapi oleh nelayan. Pemerintah bisa lebih mendayagunakan para penyuluh-penyuluh perikanannya untuk lebih berkreasi mengatasi permasalahan nelayan. Peran serta masyarakat umum, misalnya LSM juga bisa membantu dalam upaya mengatasi permasalahan.
Lembaga legislatif harus membuat tata peraturan dimana subtansinya adalah untuk melindungi para nelayan di Indonesia misalnya, adanya aturan mengenai kapal-kapal asing yang secara illegal masuk kedalam wilayah perairan Indonesia.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, begitu banyak hal yang mempengaruhi tingkat produkrivitas nelayan dalam usaha mencapai kesejahteraan hidupnya dalam hal ini dalam mencari ikan. Masalah-masalah yang ada diantaranya adalah cuaca,perlengkapan berlayar,kebijakan Pemerintah yang kurang pro nelayan.
Seharusnya Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan lebih tanggap terhadap persoalan yang dihadapi oleh para nelayan. Pemerintah hendaknya memberikan fasilitas-fasilitas ataupun memberi kemudahan bagi para nelayan untuk mengakses keperluan-keperluan yang dibutuhi oleh para nelayan. GPS misalnya, GPS ini dapat digunakan oleh para nelayan untuk memberi kemudahan dalam hal pencarian ikan. Juga bisa melalui bantuan untuk perbaikan kapal-kapal nelayan yang lebih modern.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More